Bilik Resensi; Kehangatan Lantunan Nada Cadas nan Progresif Karya Yockie Suryo Prayogo pada Konser “Menjilat Matahari”

24 Oktober 2017

Oleh: Shera Armeina

Dunia musik populer Indonesia patut memberikan rasa hutang budinya atas jasa salah satu musisi legendaris nusantara, Yockie Suryo Prayogo. Sosok jenius ini tidak hanya mahir mengolah nada diatonal menjadi sebuah harmoni bercitarasa tinggi, namun juga turut hadir dalam menghasilkan talenta-talenta musisi terbaik di Indonesia melalui kolaborasi karya dengannya.

Tidak hanya berkecimpung dalam ragam musik pop, Yockie juga merupakan ikon yang turut aktif dalam melahirkan karya-karya cadas progresif yang mampu memanjakan telinga pecinta musik Indonesia. Keterlibatannya pada grup band God Bless serta karya-karya Rock Indonesia lainnya kemudian tersajikan pada sebuah pagelaran karya bertajuk “Yockie Suryo Prayogo in Rock Menjilat Matahari”. Diadakan di The Pallas pada tanggal 11 Oktober 2017, pagelaran ini hadir untuk mengedukasi sekaligus merayakan sosoknya sebagai salah satu pelopor genre rock nusantara.

Konser Menjilat Matahari dibuka dengan penampilan Andy /Rif yang bediri diatas meja bar sembari membacakan sederet puisi diiringi piano dan nyanyian dari Yockie Suryo Prayogo berjudul “Ladangku Subur”. Lagu ini cukup menarik karena belum pernah terekam namun pernah dimainkan secara langsung empat belas tahun lalu. Andy /Rif juga memainkan lagu “Maret 1989” dan “Jurang Pemisah”. Aksi memukaunya kemudian dilanjutkan oleh performa Nicky Astria yang membawakan lagu “Misteri Cinta”, “Bebas Lepas”, dan “Biar Semua Hilang”. Sayup-sayup terdengar nyanyian beberapa penonton mengikuti Nicky bernyanyi. Ternyata mereka adalah penggemar Nicky Astria yang biasa disapa dengan Nicky Family. Selain Nicky, ada pula aksi panggung duet Ariyo Wahab dan Andy /Rif yang berusaha untuk menghangatkan suasana malam yang agak dingin itu dengan membawakan lagu yang dipopulerkan oleh band God Bless berjudul “Kehidupan” dan “Menjilat Matahari”.

Secara umum, penampilan beliau yang luar biasa kurang diimbangi oleh kehadiran penonton terutama pada ragam usia remaja. Sebagian besar penonton masih berasal dari generasi masanya yang rindu akan nostalgia. Penampilan Ariyo Wahab yang memainkan lagu “Serasa” pun kurang dapat menarik masa untuk berjoget ria, padahal lagu ini dalam beberapa tahun terakhir kerap dimainkan pada pementasan remaja dengan nuansa disko kreatif yang kuat.

Malam itu Yockie Suryo Prayogo yang pernah menjadi bagian dari “Kantata Takwa” mengundang sahabatnya, Setiawan Djody, untuk beraksi di panggung. Sebenarnya ia juga mengundang Sawung Jabo dan Iwan Fals untuk hadir, namun sangat disayangkan mereka berhalangan hadir. Akan menjadi suatu pertunjukan yang memukau jika mereka bisa berada dalam satu panggung. Sebagai pengganti Iwan Fals, Yockie Suryo Prayogo mengundang Budi Cilok untuk menyanyikan karya-karyanya. “Orang-Orang Kalah”, “Rajawali”, “Bongkar”, “Bento”, dan “Kesaksian” sanggup membuat suasana malam itu mulai terasa hangat. Para penonton mulai bernyanyi bersama. Konser yang akhirnya mulai hangat malam itu ditutup oleh Ariyo Wahab yang berjoget mengitari meja bar membawakan “Juwita”, lagu yang dipopulerkan almarhum Chrisye. Semua penonton ikut berdiri dan mulai ikut bergoyang bersama Ariyo Wahab. Tak lupa beberapa penonton mencuri kesempatan untuk melakukan swafoto bersama Ariyo Wahab yang sedang bernyanyi.

Saat semua pemain sudah mulai turun dan yang tersisa hanya Yockie, terdengar teriakan seorang wanita yang meminta Yockie untuk bermain lagi. “Om Yockie, saya ngefans lho sama Om Yockie!” teriaknya sehingga suaranya terdengar hingga ke panggung. Celetukannya membuat Yockie Suryo Prayogo tertawa kecil. Ia lalu menyanyikan “Duka Sang Bahaduri” diiringi pianonya. Permainannya yang sederhana itu menjadi sajian paling hangat dalam konsernya. Pemain biola yang tadinya telah turun dari panggung langsung kembali ke panggung untuk ikut mengiringi Yockie bernyanyi. Klimaks konser tersebut ternyata terdapat pada encore yang dimainkan oleh Yockie Suryo Prayogo sendiri. Bahkan ketika ia hanya memainkan penggalan “Gelang Sipaku Gelang” yang dilanjutkan sepenggal “Kala Sang Surya Tenggelam” dengan pianonya disambut tepuk tangan yang hangat oleh seisi ruangan.

Namun sangat disayangkan ketika belum puas menikmati permainan dari Yockie, lampu di panggung sudah mulai dimatikan dan The Pallas mulai kembali memutar lagu-lagu mancanegara masa kini. Semoga saja Yockie Suryo Prayogo selalu diberikan kesehatan agar kita para muda-mudi bisa berbondong-bondong menikmati pertunjukan selanjutnya, karena memang seharusnya Yockie Suryo Prayogo mendapatkan apresiasi yang jauh lebih besar daripada malam itu.