Bilik Resensi; Sisi Unik Budaya Musik Populer Indonesia Pada Lokakarya Archipelago Festival 2017

3 November 2017

Oleh: Shera Armeina

 

Derasnya animo generasi muda akan kembalinya rgam karya musik popular Indonesia melahirkan inspirasi akan pentingnya sebuah lokakarya yang mampu menjadi wadah pertukaran ilmu dan pengalaman. Lokakarya ini diharapkan menjadi medium pertemuan musisi legendaris sebagai saksi hidup sejarah industri musik Indonesia bersama para pegiat musik muda penuh gelora semangat. Aspirasi ini kemudian ditangkap dan dieksekusi secara kreatif oleh Sounds from the Corner pada acara Archipelago Festival, sebuah konfrensi musik yang menyajikan enam belas diskusi panel yang sangat dibutuhkan untuk menambah wawasan dalam industri musik. Archipelago Festival diadakan pada tanggal 14-15 Oktober 2017 di Soehana Hall, SCBD. Salah satu sesi diskusi yang diadakan disana bertajuk “Indonesian Pop Music” yang dimoderatori oleh Wendi Putranto dengan pembicara Guruh Soekarno Putra, Yockie Suryo Prayogo, Ade Paloh, dan Mondo Gascaro.

Musik pop Indonesia berawal sejak adanya musik keroncong yang ternyata sebuah asimilasi dari musik Bangsa Portugis. Sejak saat itu mulailah bermunculan musik-musik pop di Indonesia. Menurut Guruh Soekarno Putra, musik pop sendiri berasal dari kata populer dimana musik yang didengar oleh orang banyak. Sedangkan menurut Yockie sendiri musik pop adalah dampak perubahan dari masyarakat tradisi menjadi masyarakat terbuka. Guruh Gipsy sendiri adalah salah satu musik pop Indonesia yang sanggup menggabungkan budaya barat berupa nada-nada diatonal yang digabungkan dengan musik tradisi Bali.

Yang membuat musik pop Indonesia menjadi pertanyaan besar karena adanya pengaruh kebarat-baratan yang membuat kita sebagai bangsa Indonesia mulai melupakan kebudayaan Indonesia. Padahal bisa saja kita menciptakan musik pop Indonesia dengan menyisipkan kebudayaan Indonesia, seperti menggunakan bahasa Indonesia. Padahal musik sendiri merupakan serapan dari kebudayaan Eropa, namun menjadi tugas kita khususnya musisi bagaimana kita menyerap kebudayaan barat dan mengolahnya menjadi kebudayaan Indonesia. Bagaimana kita bisa menyisipkan rasa Indonesia dalam musik itu sendiri.

Menurut Ade Paloh, sebenarnya semua itu menjadi pilihan para musisi sendiri untuk mengikuti pasar atau bertahan untuk ikut menjaga kebudayaan Indonesia dengan menggunakan bahasa Indonesia yang sangat kaya. Padahal bangsa Indonesia adalah bangsa yang cukup besar, namun disayangkan masih banyak musisi yang menggunakan bahasa seadanya.

Sebenarnya sampai saat ini musik pop Indonesia masih dipertanyakan keberadaannya. Namun hal tersebut yang masih diperjuangkan oleh musisi besar seperti Guruh Soekarno Putra dan Yockie Suryo Prayogo untuk menciptakan sebuah karya yang memiliki identitas kebudayaan Indonesia. Pada panel diskusi ini, para pembicara banyak mengingatkan kita untuk para anak muda betapa pentingnya kita untuk selalu menjunjung tinggi kebudayaan Indonesia agar dapat menghasilkan musik pop Indonesia.