Bilik Resensi – Malam Gembira; Pesta Rakyat Jelata

29 Desember 2017

Oleh: Irina Chatarina

 

Tepat pukul tujuh malam waktu Indonesia bagian barat, semua panitia terlihat was-was dan sibuk meninjau kembali daftar periksa milik masing-masing untuk meyakinkan diri bahwa acara malam itu tidak kalah meriah dari Malam Gembira perdana di bulan Agustus lalu. Disaat itu juga pintu kafe Mondo Fatmawati resmi dibuka dan diskjoki favorit muda-mudi pecinta musik Indonesia, UdaSjam, seketika memutar piringan hitam beralunkankan lagu-lagu merdu tanah air dari era 40 sampai 60an.

Tetap dengan maksud dan tujuan serupa, Swara Gembira kembali menyuguhkan sebuah pagelaran seni sebagai sumber inspirasi teruntuk khalayak generasi muda khususnya yang berdomisili di Jakarta dan sekitarnya. Namun kali ini konsepnya dibuat 180 derajat berbeda dengan yang lalu. Bertajuk “Pesta Rakyat Jelata”, Swara Gembira mengangkat keserdahanaan sebagai tema utama, dan kebahagian sebagai poros acara.

Pemuda pemudi mulai ramai berkumpul dan bersosialisasi dengan santai di Mondo hingga pukul Sembilan malam dimana pintu Hall Rosi lantai empat kemudian mulai dibuka. Pengunjung langsung menyerbu mengelilingi panggung sederhana namun penuh warna untuk menyaksikan pertunjukan malam itu. Dibuka dengan sebuah lagu dari Sulawesi Utara berjudul “Si Patokaan”, Nonaria; sebuah Trio jazz etnik dengan talenta yang unik memulai acara diiringi eloknya tarian group Kinarya GSP. Trio berisikan 3 wanita ini juga berkolaborasi dengan Vira Talisa, membawakan lagu-lagu perjuangan wanita dengan gaya yang manis dan penuh semangat, dan berhasil mengajak semua penonton untuk menayanyi dan terharu dalam nyanyian “Sabda Alam” dan “Ibu Kita Kartini”.

Dilanjutkan oleh Sebuah orkes kerontjong asal Bandung, O.K Midaleudami, panggung aktif kembali dengan aura berbeda. Nuansa tradisional kental terasa dari ritmik lagu-lagu yang dibawakan kelompok ini. Yang menarik adalah, antusiasme pemuda pemudi tidak surut, namun semakin panas menggelora. Lagu-lagu lawas populer seperti Bengawan Solo, Payung Fantasi dan Juwita Malam berkumandang dilantunkan oleh orkes ini berserta seluruh pengunjung yang hadir pada pagelaran kali ini.

Pesta Swara Gembira kali ini ditutup oleh sekelompok pendatang baru yang khas dengan corak pop 50annya. Derediapun tentunya mebawakan lagu-lagu pop jaman dulu sesuai dengan karakter mereka yang bernuansa western swing. Deredia berkolaborasi dengan kelompok tari Kinarya GSP dalam lagu Bersuka Ria dan Mondo Gascaro pada dua lagu terakhir. Pada puncak acara, terlihat semua perserta ikut menari dan bersenandung layaknya anak SMA pada pesta perpisahan sekolah pada tahun 50an.

Lagu Gelang Sipatu Gelang yang dibawakan oleh seluruh pengisi acara menjadi aksen penutup acara Pesta Malam Rakyat Jelata. Seperti dikatakan dalam lagu ini, harapannya setiap pengunjung pulang tanpa membawa susah seminggu kemarin. Bersuka ria, berkarya untuk bangsa, dan menginspirasi satu sama lainnya, itulah tujuan kami menyelengarakan pesta sederhana kali ini. Sayonara, sampai berjumpa pulang!

 

Artikel Lainnya